Friday, October 19, 2012

Market Review 19/10/2012

Market Review
 
Dow Jones Kamis malam ditutup turun 8 poin atau 0,06% pada 13.549 terutama atas rilis data ekonomi klaim pengangguran mingguan yang dibawah estimasi konsensus.


Kemarin Wall Street menerima tiga rilis data ekonomi yaitu klaim pengangguran mingguan baru dan lanjutan dan data indeks manufaktur di wilayah Philadelphia Amerika. Klaim pengangguran mingguan baru dirilis pada 388ribu unit vs. estimasi konsensus pada 360ribu unit, sedangkan klaim pengangguran lanjutan mingguan pada 3,3juta unit atau sekitar sama dengan estimasi konsensus, sementara itu data indeks manufaktur untuk wilayah Philadelphia untuk bulan Oktober 2012, pada 5,7 (vs. estimasi konsensus pada minus 0,1) meningkat pertama kali sejak enam bulan terakhir. Data indeks manufaktur Philadelphia sedikit kontribusi memberi topangan pada pasar saham Amerika dimana indeks DJIA bergerak mixed dibuka pada teritori merah 13.553 sementara titik tertinggi pada daerah hijau 13.588. Wall Street secara umum juga dipengaruhi oleh rilis kinerja emiten Google untuk kuartal III-2012 yang dibawah estimasi konsensus, harga saham emiten ini turun 8% pada penutupan perdagangan kemarin.
 
Sementara itu, sebahagian besar pasar saham Asia kemarin ditutup menguat diwarnai optimisme pengurangan pelambatan pertumbuhan ekonomi negara Cina. Kemarin dirilis data PDB negara Cina untuk kuartal III-2012 pada 7,4%yoy sesuai dengan estimasi konsensus. Rilis data ini diterima investor beberapa hari setelah menerima data ekspor negara Cina untuk bulan September yang naik 9,9%yoy yang merupakan dua kali lipat dari estimasi investor.




News Highlights
 
Winfly Ltd siap melepas 900 juta (6,4%) saham Global Mediacom (BMTR) melalui penawaran terbatas (Private Placement). Nilai transaksinya ditargetkan mencapai Rp 2,02triliun. (Investor Daily)
 
Exploitasi Energi Indonesia (CNKO) menggandeng salah satu perusahaan energy terbesar Tiongkok, Huadian Power International Corporate Limited, untuk membangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) dan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Kedua pihak telah meneken nota kesepahaman (MOU) di Tiongkok pada 12 Oktober 2012. (Investor Daily)
 
Adhi Karya (ADHI) memperkirakan laba bersih kuartal III-2012 naik 190% menjadi Rp 88miliar dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 30,3miliar. Adapun pendapatan BUMN konstruksi itu tumbuh 11,8% dari Rp 3,13triliun menjadi Rp 3,5triliun. Perbaikan kinerja ini ditopang oleh banyaknya perolehan kontrak baru tahun ini. Hingga September 2012, ADHI mengantongi kontrak baru senilai Rp 7,9triliun atau 58,51% dari target tahun ini Rp 13,5triliun. (Investor Daily)
 
Adhi Karya (ADHI) kini menghidupkan kembali rencana pembangunan monorel di Jakarta. Perseroan akan mengajak Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakara untuk bergabung dalam konsorsium. Pembangunan proyek monorel tahap pertama diperkirakan menelan dana sebesar Rp 12-13triliun. (Investor Daily)
 
 
Global Mediacom (BMTR) membukukan pendapatan Rp 6,28triliun pada 9 bulan pertama tahun ini, tumbuh 21,05% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp 5,19triliun. Pendapatan konsolidasi perseroan ditopang oleh pertumbuhan pendapatan dari segmen media berbasis konten dan iklan. Dari segmen ini perseroan meraup Rp 4,48triliun, naik 15,59% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu Rp 3,88triliun. Kenaikan di segmen media berbasis konten dan iklan yang dikelola oleh PT media Nusantara Citra Tbk (MNCN) disebabkan oleh beberapa momen yang terjadi pada kuartal III/2012 seperti Euro Cup dan juga kontribusi pada saat bulan suci Ramadhan. (Bisnis Indonesia)
 
Produsen nikel Central Omega Resources (DKFT) dan E United Group dari Taiwan mendirikan perusahaan patungan untuk proyek pabrik pengolahan bijih nikel senilai USD 700juta. (Bisnis Indonesia)
 
Rating and Investment Information, lembaga rating asal Jepang, menaikkan rating utang Indonesia dari BB+ menjadi BBB- dengan prospek stabil. Aksi pemeringkatan ini memperhitungkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif tinggi di tengah perlambatan ekonomi global, pengelolaan fiskal yang konservatif, dan beban utang pemerintah yang rendah. Sistem keuangan Indonesia yang stabil dan kenaikan investasi asing juga mendukung peningkatan rating tersebut. (Bloomberg)

No comments:

Post a Comment

Note: Only a member of this blog may post a comment.